Menu
Info Pesantren
Sabtu, 02 Mei 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Jejak Khidmah Santri di Negeri Pegunungan

Terbit : Kamis, 12 Maret 2026

Jejak Khidmah Santri di Negeri Pegunungan

Sejak 16 Februari 2026, delapan belas santri putra kelas 5 Pesantren PERSIS Bangil memulai perjalanan pengabdian dalam program Latihan Khidmah Jam’iyyah (PLKJ) di Kabupaten Wonosobo. Daerah pegunungan yang berhawa sejuk itu menjadi tempat mereka belajar mengamalkan ilmu secara nyata di tengah masyarakat. Base camp awal dan akhir kegiatan berada di wilayah Garung Butuh Kalikajar, sebuah kawasan yang menghadap hamparan perbukitan hijau Wonosobo.

Dari sana, para santri menyebar ke berbagai lokasi pengabdian: Tieng Kejajar, Wedi Asin Selomerto, wilayah Kepil, hingga daerah Bulu, Parakan, Temanggung. Mereka tinggal di rumah-rumah warga, membaur dengan kehidupan masyarakat, mengajar anak-anak mengaji, membantu kegiatan masjid, serta menghidupkan suasana Ramadhan dengan tilawah dan pembinaan keagamaan.

Suatu hari, Ustadz Rohmad Hamidi datang menjenguk beberapa lokasi kegiatan. Di salah satu tempat, ia melihat Neo, Azka, dan beberapa santri lain sedang menyimak hafalan anak-anak di serambi masjid.

“MasyaAllah,” ujar beliau sambil tersenyum, “ternyata kalian sudah sibuk mengajar.”

Neo menjawab dengan rendah hati, “Kami hanya mencoba menerapkan apa yang kami pelajari di pesantren, Ustadz.”

Ustadz Rohmad memperhatikan bagaimana para jamaah menyambut para santri dengan hangat. Santri yang bacaan Al-Qur’annya baik menjadi kesayangan masyarakat. Setiap malam mereka diminta memimpin tilawah atau membantu memperbaiki bacaan jamaah.

“Kalau bacaan Al-Qur’annya seperti ini,” kata salah seorang jamaah, “kami jadi semangat belajar lagi.”

Namun kehidupan PLKJ juga menghadirkan pelajaran kedewasaan. Di satu tempat, Ustadz Rohmad mendengar ada santri yang sempat izin keluar tetapi kembali sudah cukup larut malam.

Beliau menasihati dengan bijak, “Pengabdian itu bukan hanya tentang mengajar orang lain. Pengabdian juga tentang menjaga disiplin diri dan nama baik pesantren.”

Para santri mengangguk memahami.

Ada pula kisah sederhana yang justru menghangatkan hati. Seorang santri pernah terlambat bangun sahur. Keluarga yang menampungnya justru mengenang kejadian itu dengan senyum.

“Santri yang kemarin itu lucu sekali,” kata ibu rumah kepada Ustadz Rohmad. “Kami malah jadi kangen suasana sahur bersama mereka.”

Di sela-sela kegiatan, masyarakat juga mengajak para santri menikmati keindahan alam Wonosobo. Beberapa di antara mereka pernah diajak mendaki bukit di sekitar dataran tinggi Dieng. Kabut tipis, udara dingin, dan panorama pegunungan memberi pengalaman yang tak terlupakan.

Di tempat lain, ada pula santri yang diajak mengunjungi air terjun setelah menyelesaikan kegiatan mengajar anak-anak.

Ustadz Mushthalihudin yang turut membimbing kegiatan ini mengatakan bahwa setiap santri menunjukkan proses belajar yang berbeda.

“Ada yang awalnya terlihat kurang percaya diri,” tuturnya. “Tetapi setelah beberapa hari, mereka mulai berani memimpin doa, berbicara di depan anak-anak, bahkan memimpin pengajian.”

Sebaliknya, ada pula santri yang sejak awal sangat aktif dan mudah akrab dengan masyarakat.

“Kalau santri yang ceria,” kata seorang warga, “anak-anak langsung suka belajar dengannya.”

Apresiasi juga datang dari Bunda Titik Mahmudah, tokoh yang turut mendampingi kegiatan di Wonosobo. Ia menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan pesantren kepada para alumnus yang berada di daerah tersebut untuk menjadi penghubung kegiatan.

“Kami sangat mengapresiasi program ini,” ujar beliau. “Ini menunjukkan kepercayaan Pesantren PERSIS Bangil kepada para alumnus di Wonosobo untuk ikut membimbing adik-adiknya dalam kegiatan pengabdian.”

Namun ia juga menegaskan bahwa setiap pengalaman, termasuk kekurangan yang terjadi selama kegiatan, harus menjadi bahan evaluasi bersama.

“Kalau ada kekurangan, itu bukan untuk disesali, tetapi untuk diperbaiki bersama. Justru dari sinilah santri belajar menjadi lebih matang.”

Hari-hari pengabdian itu akhirnya sampai pada penutupnya. Pada 10 Maret 2026, para santri kembali ke pesantren dengan membawa banyak cerita.

Mereka pulang bukan hanya membawa kenangan tentang dinginnya udara Wonosobo atau indahnya pegunungan Dieng. Mereka membawa pelajaran penting: bahwa ilmu Al-Qur’an, akhlak, dan disiplin yang dipelajari di pesantren benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat.

Di desa-desa yang sederhana itu, mereka belajar satu hal yang tidak selalu tertulis dalam kitab pelajaran—bahwa menjadi santri berarti siap menjadi pelayan umat.

Dan perjalanan PLKJ di Wonosobo itu hanyalah awal dari langkah panjang pengabdian mereka di masa depan.

Artikel ini memiliki

2 Komentar

Banyak cerita dan kenagan tentu’nya yang tersirat dalam hati,kami banyak belajar dari Adek” santri…karena tata cara n bagaimana mereka bertingkah laku itu adalah dakwah bagi kami dan kami sangat merasa senang akan kehadiran mereka didesa kami Gentan bener kepil wonosobo,kami sangat tersanjung akan Adek” santri,terkesima akan ilmu dan bangga akan semua sifat dan sikap mereka yang tentunya sangat mengena dihati kami…”
Terkhusus untuk adek Abang muhammad ridho dan kawan” yang berdakwah dideaa kami,kami sangat berterima kasih atas ilmu’nya khususnya bagi saya pribadi.Banyak pecutan untuk kami menjadi pribadi yang lebih baik lagi n tentunya hanya untaian kalimat terima kasih yang dapat kami sampaikan,semoga menjadi ladang amal baik buat Adek” santri dan menjadi semangat jia buat kalian untuk belajar dan belajar lagi tentunya dan semoga kita termasuk hamba yang beruntung,aamiin.
Buat Adek santri,kami tak bisa berharap banyak untuk kalian,setiap pertemuan pasti akan perpisahan…kami khususnya saya pribadi berdo’a semoga ini bukan akhir dari segala’nya dan semoga apa yang Adek santri impikan dan cita”kan Alloh swt.mudahkan jalan…aamiin.
Dan terkhusus untuk Abang muhammad ridho,tetaplah jadi Adek yang baik buat Kakak…
Terima kasih.
Assalaamu’alaikum

Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan ke Humas Persis Bangil Batalkan balasan

Flag Counter