
(Sebuah Fabel tentang Amanah)
Suatu malam di ruang belajar pesantren, ketika para santri telah tidur dan lampu mulai redup, tiba-tiba terdengar suara lirih dari sudut ruangan.
“Ah… punggungku sakit sekali,” keluh sebuah kursi kayu.
Meja di depannya ikut menghela napas panjang.
“Bukan hanya kamu. Lihatlah tubuhku. Setiap hari dipukul, ditendang, bahkan dicoret-coret.”
Di pojok ruangan, lemari kitab membuka pintunya sedikit.
“Aku juga sering dibanting,” katanya pelan. “Kitab-kitab disimpan terburu-buru. Kadang pintuku tidak ditutup.”
Sementara itu sapu yang bersandar di dinding berkata lirih,
“Kalau saja santri ingat bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, mungkin aku tidak akan dipakai hanya ketika ustadz datang memeriksa.”
Kursi mengangguk pelan.
“Aku sebenarnya senang diduduki santri yang belajar. Itu membuatku merasa bermanfaat. Tapi aku sedih kalau ada yang menggeserku dengan kasar.”
Meja menambahkan,
“Kadang aku dipakai menulis ayat-ayat Al-Qur’an. Itu membuatku bangga. Tapi kenapa ada yang menulis hal tidak penting di tubuhku?”
Tiba-tiba papan tulis yang sejak tadi diam berbicara dengan suara bijak.
“Teman-teman, jangan terlalu bersedih. Santri sebenarnya anak-anak baik. Mereka hanya belum menyadari bahwa kita juga bagian dari amanah.”
“Amanah?” tanya kursi.
“Iya,” jawab papan tulis. “Kita dibuat agar membantu mereka menuntut ilmu. Jika kita dirawat, kita bisa membantu lebih lama.”
Saat fajar mulai menyingsing, seorang santri bernama Adil datang lebih awal ke ruang belajar. Ia melihat meja yang penuh coretan dan kursi yang miring.
Adil terdiam lama.
“Kenapa ruang belajar kita seperti ini?” gumamnya.
Hari itu ia mengajak teman-temannya membersihkan ruangan, memperbaiki kursi yang longgar, dan menghapus coretan di meja.
Perlahan ruang belajar menjadi rapi kembali.
Malam berikutnya, kursi tersenyum lega.
“Lihat, mereka mulai mengerti.”
Meja pun berkata dengan bahagia,
“Benar. Ternyata jika satu santri sadar, yang lain bisa ikut menjaga.”
Dan sejak saat itu, ruang belajar pesantren kembali menjadi tempat yang nyaman—bukan hanya untuk belajar, tetapi juga untuk menjaga amanah bersama.
Tinggalkan Komentar