Menu
Info Pesantren
Sabtu, 02 Mei 2026
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur
  • Putra: Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 223 - Gempeng - Telp. 0343-741932 | Putri: Jl. Pattimura No. 185 - Pogar - Telp. 0343-742891 | email: pesantrenpersisbangil@gmail.com | Bangil | Pasuruan | 67153 | Jawa Timur

Khidmah Itu Menguatkan Kami

Terbit : Minggu, 1 Maret 2026

Sore itu, beberapa santri kelas 5 duduk melingkar di serambi pesantren. Wajah mereka terlihat lelah, tetapi ada cahaya kebahagiaan yang sulit disembunyikan. Program Pondok Ramadhan yang mereka selenggarakan untuk anak-anak SD dan SMP baru saja selesai.

Farah membuka percakapan.

Farah:
“Jujur, awalnya aku sempat takut. Mengatur anak-anak SD itu ternyata butuh kesabaran luar biasa. Tapi setelah selesai, rasanya… berbeda. Seperti ada kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan.”

Wafda tersenyum.
“Iya, aku juga merasakan hal yang sama. Waktu menyimak hafalan mereka, ada satu anak yang awalnya terbata-bata. Hari terakhir, dia lancar membaca. Rasanya terharu sekali.”

Naila mengangguk pelan.
“Yang paling berkesan bagiku itu ketika mereka bilang, ‘Kak, tahun depan datang lagi ya.’ Ternyata sekadar hadir dan membersamai mereka sudah berarti.”

Rakhel menambahkan,
“Kita sering belajar tentang dakwah di kelas. Tapi waktu benar-benar turun langsung, baru terasa bahwa dakwah itu bukan hanya ceramah. Senyum, sabar, dan perhatian itu juga dakwah.”

Sejenak mereka terdiam. Angin sore berhembus pelan.

Belajar dari Pengalaman

Farah berkata pelan:
“PLKJ ini benar-benar mengajarkan kita tentang tanggung jawab. Kita membawa nama pesantren. Kalau kita tidak disiplin atau kurang sabar, yang terlihat bukan hanya diri kita, tapi lembaga kita.”

Wafda menimpali:
“Dan ternyata mengajar itu membuat kita belajar dua kali. Kita jadi lebih paham materi, karena harus menjelaskan dengan bahasa yang sederhana.”

Naila tersenyum.
“Aku merasa lebih percaya diri sekarang. Dulu kalau disuruh kultum masih gemetar. Sekarang setelah beberapa kali berdiri di depan anak-anak, rasanya lebih siap.”

Rakhel menambahkan dengan penuh semangat,
“Ini baru awal. In syaa Allah kita juga akan membantu Remaja Masjid An Nuur Sidoarjo tanggal 7–8 Maret nanti. Acara Camp Tahfidz untuk anak-anak dan remaja.”

“Sebagai musyrifah tahfidz,” sambung Farah, “kita akan menyimak hafalan mereka. Tugasnya mungkin terlihat sederhana, tapi sebenarnya besar. Kita menjaga ayat-ayat Allah di dada mereka.”

Makna Khidmah yang Sesungguhnya

Wafda berkata dengan suara lebih tenang,
“Aku jadi paham, khidmah itu bukan tentang seberapa besar acaranya, tapi tentang seberapa tulus kita melayani.”

Naila menambahkan,
“Dan ternyata membantu orang lain itu justru membuat hati kita yang dibantu. Rasanya lebih dekat dengan Allah.”

Rakhel menutup percakapan,
“Kita mungkin belum sempurna. Tapi lewat PLKJ dan kegiatan seperti Pondok Ramadhan serta Camp Tahfidz ini, kita sedang ditempa. Belajar sabar, belajar ikhlas, belajar memimpin, dan belajar melayani.”

Mereka saling berpandangan. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan. Tetapi di dalam hati masing-masing, tumbuh keyakinan baru: bahwa menjadi santri bukan hanya tentang belajar di kelas, melainkan tentang menghadirkan manfaat di tengah umat.

Dan langkah mereka belum berhenti.
Tanggal 7–8 Maret nanti, di Masjid An Nuur Sidoarjo, mereka akan kembali melangkah—menjadi musyrifah tahfidz, membersamai anak-anak dan remaja dalam Camp Tahfidz, menjaga hafalan, dan menjaga semangat generasi Qur’ani.

Khidmah itu melelahkan, tetapi menguatkan.
Khidmah itu sederhana, tetapi memuliakan.

Artikel Lainnya

Oleh : SUUD HASANUDIN

MANDI JUM’AT

Oleh : P4P PUSZIE

SERANGAN KE TEPI BARAT

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Flag Counter