
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Di lingkungan pesantren, hidup bersama dengan banyak teman tentu menghadirkan perbedaan pendapat, kesalahpahaman, candaan yang berlebihan, atau sikap yang terkadang membuat hati tersinggung. Semua itu adalah bagian dari proses belajar hidup bermasyarakat. Namun, yang membedakan seorang santri dengan yang lain adalah cara ia merespons emosinya.
Marah adalah fitrah manusia. Islam tidak melarang seseorang merasa marah, tetapi mengajarkan agar amarah tidak berubah menjadi dosa. Ketika emosi dibiarkan menguasai hati, lisan menjadi tajam, tangan mudah menyakiti, dan keputusan diambil tanpa pertimbangan. Dari sinilah muncul pertengkaran, perundungan, penghinaan, bahkan tindakan kekerasan yang merusak ukhuwah.
Seorang santri Pesantren PERSIS Bangil hendaknya menjadikan ilmu sebagai pengendali emosi. Sebelum berbicara, berpikirlah. Sebelum bertindak, renungkan akibatnya. Bisa jadi satu kalimat yang diucapkan saat marah akan melukai hati seorang teman selama bertahun-tahun. Bisa jadi satu dorongan atau pukulan yang dianggap sepele justru menjadi penyesalan yang panjang.
Orang yang mampu menahan amarah bukanlah orang yang lemah. Justru dialah pribadi yang memiliki kekuatan sejati. Ia mampu mengalahkan hawa nafsunya, menjaga lisannya, menghormati saudaranya, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Itulah akhlak yang diajarkan Rasulullah ﷺ dan menjadi ciri seorang penuntut ilmu.
Apabila amarah mulai memuncak, ingatlah beberapa adab yang diajarkan Islam: berlindung kepada Allah dari godaan setan, diam agar lisan tidak menyakiti, berwudu, mengubah posisi (dari berdiri menjadi duduk atau berbaring), dan menjauh sejenak dari sumber perselisihan hingga hati kembali tenang. Ketenangan akan melahirkan keputusan yang lebih bijaksana daripada ledakan emosi.
Mari jadikan Pesantren PERSIS Bangil sebagai lingkungan yang dipenuhi akhlak mulia, saling menghormati, saling menasihati, dan saling menjaga kehormatan sesama santri. Kekuatan seorang santri tidak diukur dari kerasnya suara, hebatnya fisik, atau keberaniannya melawan teman, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri ketika amarah menguasai hati.
Hari ini, mari buktikan bahwa kita adalah santri yang kuat—kuat menahan emosi, kuat menjaga lisan, dan kuat merawat persaudaraan. Semoga Allah ﷻ menghiasi hati kita dengan kesabaran, kelembutan, dan akhlak yang mulia. Aamiin.
Tinggalkan Komentar