
Di pagi Hari Raya Idul Fitri,
takbir menggema di langit kampung kami,
angin membawa harum ketupat dan doa ibu,
sementara hati kecilku berjalan jauh—
menuju halaman pesantren yang kurindu.
Libur memang menghadirkan hangat keluarga,
tawa saudara, dan pelukan ayah yang lama kutunggu.
Namun di sela-sela itu,
ada rindu yang tumbuh pelan—
rindu pada suara adzan dari masjid pesantren,
rindu pada langkah-langkah menuju ruang belajar.
Aku rindu teman-teman yang biasa bercanda
di sela menghafal dan mengulang pelajaran.
Rindu pada meja kayu tempat kitab terbuka,
dan lampu malam yang menemani kami belajar.
Aku juga rindu guru-guru kami,
yang nasihatnya kadang sederhana
namun terasa dalam maknanya.
Dari mereka kami belajar
bahwa ilmu bukan hanya untuk dihafal,
tetapi untuk menjadi jalan hidup.
Idul Fitri adalah hari kembali—
kembali pada fitrah,
kembali pada hati yang bersih.
Dan setelah hari-hari libur berlalu,
aku ingin kembali melangkah
ke gerbang pesantren itu lagi.
Bersama teman-teman seperjuangan,
dengan semangat yang baru,
dengan doa orang tua yang mengiringi.
Karena di sanalah
perjalanan ilmu kami dilanjutkan,
dan di sanalah
persahabatan, doa, dan harapan
kembali tumbuh setiap hari.
Selamat Hari Raya,
hingga nanti kita bertemu lagi
di halaman pesantren yang penuh berkah.
Tinggalkan Komentar