
Sahabat Santri,
Jika siang Ramadhan adalah madrasah kesabaran, maka malamnya adalah madrasah kedekatan. Allah ﷻ berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ ۖ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
(الإسراء: 79)
Qiyam Ramadhan—tarawih atau tahajud—adalah momentum ruhiyah yang mengangkat derajat seorang mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
(متفق عليه)
Iman dan ihtisab kembali menjadi kunci. Bagi Sahabat Santri, bangun malam bukan hal asing. Di pesantren, qiyamul lail sering menjadi bagian dari pembinaan. Namun Ramadhan memberi nuansa berbeda: lebih khusyuk, lebih panjang, lebih dalam.
Di sinilah karakter santri ditempa. Ketika yang lain terlelap, Sahabat Santri berdiri menghadap Allah. Ketika tubuh lelah, hati justru dikuatkan. Qiyam melatih keistiqamahan—bahwa ibadah tidak bergantung suasana, tetapi komitmen.
Baik di pesantren maupun di rumah saat liburan, jangan biarkan malam Ramadhan berlalu tanpa makna. Jadikan ia waktu bermunajat, mendoakan orang tua, guru, dan umat.
Karena santri PERSIS Bangil bukan hanya kuat dalam belajar, tetapi juga kokoh dalam berdiri di sepertiga malam.
“Lanjut Seri 3” : Tilawah Al-Qur’an – Ruh Ramadhan dan Identitas Santri.
Tinggalkan Komentar