
Di sebuah pesantren, ada guru yang mengajar di dalam kelas. Ada yang mendidik melalui keteladanan. Ada pula yang bekerja di balik layar, memastikan berbagai program pendidikan berjalan dengan baik. Namun, sesekali hadir sosok yang menjalankan semuanya sekaligus: mengajar, memimpin, menggerakkan, dan mengabdikan dirinya untuk keberlangsungan pesantren.
Sosok itu adalah Ustadz Putut Tri Subekti, M.Pd.
Saat ini, beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala MTs PERSIS 1 Bangil. Sebuah amanah yang bukan sekadar jabatan administratif, tetapi merupakan bagian dari perjalanan panjang pengabdian beliau di lembaga pendidikan yang dahulu juga menjadi tempat beliau ditempa sebagai seorang santri.
Ustadz Putut merupakan alumnus Pesantren PERSIS Bangil tahun 1991. Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, perjalanan keilmuannya berlanjut ke LIPIA Jakarta, salah satu lembaga pendidikan tinggi Islam yang dikenal kuat dalam pengajaran bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman. Beliau juga pernah mengenyam pendidikan di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA).
Perjalanan pendidikan tersebut semakin memperkuat konsentrasi beliau pada bidang yang kemudian menjadi salah satu bidang keilmuan yang ditekuni sepanjang pengabdiannya: Bahasa Arab.
Di Pesantren PERSIS Bangil, beliau mengajarkan Bahasa Arab kepada para santri, khususnya di kelas 3 dan kelas 6. Bagi beliau, bahasa Arab bukan sekadar mata pelajaran yang harus dikuasai untuk menghadapi ujian. Bahasa Arab adalah kunci untuk membuka pintu khazanah keislaman.
Melalui bahasa Arab, santri belajar mendekati Al-Qur’an. Melalui bahasa Arab, mereka membaca hadis dengan lebih dekat kepada teks aslinya. Melalui bahasa Arab pula, mereka dapat menyelami karya-karya para ulama dan memahami warisan keilmuan Islam secara lebih mendalam.
Karena itu, pengajaran bahasa Arab di tangan seorang guru pesantren bukan hanya tentang nahwu, sharaf, mufradat, atau kemampuan berbicara. Lebih dari itu, ia adalah bagian dari ikhtiar menyiapkan generasi yang mampu membaca dan memahami sumber-sumber ilmu Islam.
Pengabdian Ustadz Putut kepada Pesantren PERSIS Bangil memiliki sebuah kisah yang istimewa.
Beliau adalah putra dari almarhum Ustadz Basyuni Ahmad, salah satu guru senior Pesantren PERSIS Bangil.
Ada sesuatu yang mendalam dalam perjalanan seorang anak yang kemudian kembali mengabdi di tempat ayahnya dahulu mencurahkan ilmu.
Dahulu, sang ayah datang sebagai seorang guru.
Kini, sang anak berdiri sebagai seorang pemimpin pendidikan.
Dahulu, mungkin banyak santri mengenal nama Ustadz Basyuni Ahmad sebagai sosok guru yang mengajar dan mendidik generasi.
Kini, nama keluarga itu kembali hadir melalui pengabdian putranya.
Namun, pengabdian Ustadz Putut tidak berhenti pada upaya meneruskan sebuah nama keluarga. Ia meneruskan sesuatu yang jauh lebih penting: tradisi ilmu dan pengabdian.
Karena pesantren pada hakikatnya bukan sekadar bangunan yang diwariskan.
Pesantren adalah nilai yang diwariskan.
Ilmu yang diwariskan.
Adab yang diwariskan.
Dan semangat untuk terus memberikan manfaat kepada umat.
Di luar tugas utamanya sebagai pendidik dan kepala madrasah, Ustadz Putut dikenal aktif dalam berbagai kegiatan dan agenda Pesantren PERSIS Bangil.
Beliau terlibat dalam berbagai kegiatan pesantren, mulai dari kepanitiaan ibadah qurban, kepanitiaan ujian, hingga berbagai kegiatan kelembagaan dan pengembangan pendidikan.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan satu hal penting: bahwa bagi beliau, menjadi guru bukan hanya berarti hadir di depan kelas.
Menjadi guru berarti bersedia hadir ketika pesantren membutuhkan tenaga.
Bersedia bekerja ketika sebuah program harus disiapkan.
Bersedia mengambil tanggung jawab ketika sebuah amanah harus ditunaikan.
Dan bersedia memikirkan masa depan pendidikan bahkan ketika tidak ada yang melihat prosesnya.
Di antara gagasan yang turut beliau cetuskan adalah Musyawarah Ustadz-Ustadzah Madah, sebuah forum yang menjadi ruang bagi para guru untuk berdiskusi dan bekerja bersama dalam rumpun mata pelajaran.
Gagasan ini memiliki nilai penting dalam pengembangan pendidikan pesantren.
Sebab seorang guru tidak seharusnya berjalan sendirian.
Guru perlu berdiskusi.
Guru perlu mengevaluasi.
Guru perlu menyamakan persepsi.
Guru perlu berbagi pengalaman.
Dan guru perlu terus belajar dari guru lainnya.
Melalui forum semacam ini, proses pendidikan tidak hanya bertumpu pada kemampuan individu seorang guru, tetapi berkembang menjadi budaya kolektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dengan demikian, Musyawarah Ustadz-Ustadzah Madah bukan hanya sebuah kegiatan rutin. Ia menjadi bagian dari upaya membangun tradisi akademik di lingkungan pesantren: guru belajar bersama untuk mendidik generasi yang lebih baik.
Ada sebuah perjalanan yang menarik dalam perjalanan hidup Ustadz Putut. Beliau pernah menjadi santri di Pesantren PERSIS Bangil. Kemudian beliau pergi untuk melanjutkan perjalanan pendidikan. Belajar. Menuntut ilmu. Memperluas wawasan. Hingga akhirnya, beliau kembali.
Namun kali ini, beliau tidak kembali sebagai santri. Beliau kembali sebagai guru. Dan kemudian, beliau dipercaya menjadi Kepala MTs PERSIS 1 Bangil. Di situlah kisah ini menjadi istimewa. Sebab seorang santri pada akhirnya tidak benar-benar meninggalkan pesantrennya. Ia mungkin pergi untuk mencari ilmu. Ia mungkin menempuh perjalanan ke tempat yang jauh. Ia mungkin membangun pengalaman di berbagai tempat. Tetapi jika ilmu itu benar-benar tumbuh menjadi pengabdian, maka pada suatu hari ia akan menemukan jalan untuk kembali memberi manfaat.
Ustadz Putut adalah salah satu gambaran dari perjalanan itu. Dulu beliau duduk sebagai santri di ruang-ruang belajar Pesantren PERSIS Bangil. Kini beliau berdiri sebagai salah satu orang yang bertanggung jawab memastikan ruang-ruang belajar itu tetap hidup. Dulu beliau menerima ilmu dari para guru. Kini beliau meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Dulu beliau belajar menjadi bagian dari tradisi pesantren. Kini beliau ikut menjaga agar tradisi itu tidak terputus. Dan mungkin, inilah warisan terbesar seorang santri: Bukan seberapa jauh ia pergi setelah lulus dari pesantren. Tetapi seberapa banyak ilmu yang ia bawa pulang untuk kembali menghidupkan pesantrennya. Karena pada akhirnya, seorang santri yang benar-benar tumbuh dari pesantren tidak pernah benar-benar meninggalkan pesantrennya.
Ia hanya pergi untuk belajar. Lalu suatu hari kembali— bukan untuk menjadi santri lagi, tetapi untuk memastikan generasi setelahnya dapat merasakan manfaat yang dahulu pernah ia terima. Dan di Pesantren PERSIS Bangil, perjalanan itu terus berlanjut. Dari guru kepada murid. Dari ayah kepada anak. Dari generasi kepada generasi. Dari ilmu yang dipelajari— menjadi ilmu yang diamalkan dan diwariskan.
Tinggalkan Komentar