
Ada guru yang mengajar agar muridnya mengetahui. Ada guru yang mendidik agar muridnya memahami. Namun ada guru yang bekerja lebih jauh: ia mendampingi murid agar mampu berpikir, bertanya, menguji, dan mempertanggungjawabkan apa yang diyakininya. Di Pesantren PERSIS Bangil, sosok itu salah satunya adalah Ustadz Arie Prima Rahmatullah, Lc.
Beliau adalah salah satu pengajar yang mengampu mata pelajaran Fiqih dan Ilmu Sharaf. Dua bidang yang, jika dilihat sekilas, mungkin tampak berbeda. Fiqih berbicara tentang bagaimana seorang muslim menjalankan kehidupan berdasarkan tuntunan syariat, sedangkan ilmu sharaf membahas struktur dan perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab.
Namun sesungguhnya, keduanya memiliki satu titik temu yang sangat penting: ketelitian dalam memahami makna. Fiqih mengajarkan bahwa sebuah hukum tidak boleh ditetapkan tanpa dasar yang benar. Sharaf mengajarkan bahwa sebuah kata tidak boleh dipahami tanpa mengetahui bentuk dan perubahannya.
Dari keduanya, santri belajar satu prinsip besar: Kesimpulan yang benar harus lahir dari proses berpikir yang benar. Inilah salah satu fondasi pendidikan yang beliau tanamkan dalam proses pembelajaran di Pesantren PERSIS Bangil.
Dari Sidjoarjo, Tumbuh di Pesantren
Ustadz Arie Prima Rahmatullah lahir di Sidoarjo, Jawa Timur. Masa remajanya kemudian dihabiskan dalam lingkungan pendidikan Pesantren PERSIS Bangil. Di tempat inilah beliau menjalani proses pembentukan dirinya sebagai seorang santri. Beliau menyelesaikan pendidikan di Pesantren PERSIS Bangil pada tahun 2004. Seperti banyak santri lainnya, perjalanan setelah lulus tidak berhenti pada gerbang pesantren. Beliau melanjutkan perjalanan keilmuan hingga akhirnya menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Pengalaman pendidikan di Mesir memberikan ruang yang luas bagi beliau untuk memperdalam khazanah keislaman dan tradisi keilmuan Islam. Namun ada satu hal yang menarik dari perjalanan beliau.Setelah menempuh perjalanan ilmu yang jauh, beliau kembali ke tempat di mana perjalanan intelektualnya pernah dimulai. Pesantren PERSIS Bangil.
Di sinilah perjalanan seorang santri berubah menjadi perjalanan seorang pendidik. Dulu beliau belajar di ruang-ruang kelas sebagai seorang santri. Kini beliau berdiri di ruang yang sama sebagai seorang guru. Dulu beliau menerima ilmu dari para ustadz. Kini beliau ikut meneruskan ilmu itu kepada generasi berikutnya. Dan di situlah makna pengabdian menjadi semakin jelas. Ilmu yang baik tidak berhenti pada orang yang mempelajarinya. Ia harus bergerak, berpindah, dan memberi manfaat.
Dari Fiqih dan Sharaf Menuju Cara Berpikir
Mengajar fiqih bukan hanya mengajarkan daftar hukum. Mengajar sharaf bukan hanya mengajarkan perubahan bentuk kata. Keduanya adalah latihan intelektual.
Fiqih mengajarkan santri untuk bertanya:
“Apa dalilnya?”
“Bagaimana memahami dalil tersebut?”
“Apa kaidah yang digunakan?”
“Bagaimana ulama menyimpulkan hukum?”
Sementara ilmu sharaf mengajarkan:
“Mengapa kata ini berubah?”
“Apa konsekuensi perubahan bentuknya?”
“Bagaimana perubahan struktur memengaruhi makna?”
Dari sinilah pendidikan pesantren seharusnya membuka wawasan santri. Santri tidak cukup hanya menjadi orang yang tahu jawaban. Santri harus menjadi orang yang memahami mengapa jawaban itu benar. Sebab dunia akan terus berubah. Persoalan umat akan terus berkembang. Pertanyaan-pertanyaan baru akan terus muncul. Karena itu, pendidikan pesantren tidak boleh hanya mempersiapkan santri untuk menjawab pertanyaan hari ini.
Pesantren harus mempersiapkan santri agar memiliki kemampuan untuk menghadapi pertanyaan yang bahkan belum pernah muncul sebelumnya. Di sinilah pentingnya tradisi ilmu. Dan di sinilah peran seorang guru menjadi sangat strategis.
Menjaga Gerbang Tradisi Ilmiah Santri
Saat ini, Ustadz Arie Prima Rahmatullah juga dipercaya sebagai Sekretaris Majelis Guru Pesantren PERSIS Bangil. Dalam posisi tersebut, beliau bersama tim memiliki tanggung jawab dalam menilai dan menentukan keabsahan judul makalah yang diajukan oleh santri kelas 6. Sekilas, tugas ini mungkin tampak administratif. Namun sesungguhnya, ia memiliki makna akademik yang jauh lebih besar. Makalah bukan sekadar tugas akhir. Makalah adalah latihan pertama seorang santri untuk memasuki dunia penelitian. Di dalamnya ada proses memilih persoalan. Menentukan fokus. Menyusun pertanyaan. Mencari referensi. Menganalisis dalil. Menyusun argumentasi. Dan mempertanggungjawabkan kesimpulan. Karena itu, menentukan apakah sebuah judul makalah layak atau tidak bukanlah perkara sederhana. Judul yang baik harus memiliki batasan yang jelas. Memiliki persoalan yang dapat dikaji. Memiliki sumber yang dapat ditelusuri. Dan yang paling penting, mampu membawa santri kepada proses berpikir ilmiah.
Di sinilah Ustadz Arie dan timnya menjalankan peran penting. Mereka bukan sekadar “memeriksa judul”. Mereka sedang menjaga agar tradisi penelitian di pesantren tetap memiliki standar. Mereka sedang mengajarkan kepada santri bahwa: Ilmu tidak lahir dari dugaan. Ilmu tidak dibangun dari asumsi. Ilmu harus memiliki dasar, metode, dan argumentasi. Dengan demikian, seorang santri yang menulis makalah tidak hanya belajar menyelesaikan tugas. Ia sedang belajar menjadi seorang pencari ilmu.
Kepala Asrama: Mengawal Ilmu agar Menjadi Amal
Selain mengajar dan menjalankan amanah sebagai Sekretaris Majelis Guru, Ustadz Arie juga dipercaya sebagai Kepala Asrama Putra Pesantren PERSIS Bangil. Di sinilah peran beliau mengambil dimensi yang berbeda. Jika di kelas seorang guru mengawal ilmu, maka di asrama seorang pembina mengawal praktik kehidupan.
Sebab pesantren tidak boleh berhenti pada teori. Santri boleh memahami fiqih. Tetapi ia harus mampu melaksanakan ibadah. Santri boleh menghafal ayat. Tetapi ia harus mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupannya. Santri boleh belajar akhlak. Tetapi ia harus mampu menghormati orang lain ketika tidak ada guru yang melihat. Karena itu, sebagai Kepala Asrama Putra, beliau turut mengontrol ibadah santri dan hafalan ayat-ayat Al-Qur’an.
Pengawasan tersebut bukan sekadar bentuk kedisiplinan. Ia adalah proses pendidikan. Santri dibiasakan untuk memahami bahwa ilmu memiliki konsekuensi. Bahwa mengetahui kewajiban berarti siap melaksanakannya. Bahwa hafalan bukan sekadar angka yang harus dicapai. Dan bahwa ibadah bukan sekadar agenda yang harus dilaporkan. Ilmu harus menjelma menjadi amal.
Guru yang Menghadirkan Ruang Dialog
Namun pendidikan yang baik tidak selalu berlangsung dalam suasana formal. Kadang-kadang, justru percakapan paling bermakna lahir ketika suasana menjadi santai. Di tengah kesibukan mengontrol kehidupan santri, Ustadz Arie juga dikenal membuka ruang dialog yang hangat bersama para santri, terutama dalam kegiatan-kegiatan santai. Di ruang seperti itulah seorang santri bisa bertanya tanpa takut salah. Bisa bercerita tanpa takut dihakimi. Bisa menyampaikan kegelisahan. Bisa mendiskusikan persoalan yang mungkin tidak sempat dibicarakan di dalam kelas.
Ruang dialog semacam ini penting. Karena seorang santri bukan hanya kumpulan nilai akademik. Ia adalah manusia muda yang sedang mencari arah. Ia memiliki pertanyaan. Ia memiliki kegelisahan. Ia memiliki mimpi. Dan terkadang, ia hanya membutuhkan seorang guru yang mau mendengarkan. Seorang guru yang bersedia berkata: “Coba ceritakan. Apa yang sedang kamu pikirkan?” Dari percakapan sederhana semacam itulah, sering kali lahir proses pendidikan yang paling dalam.
Wali Kelas 4: Mengenal Santri Lebih Dekat
Ustadz Arie juga dipercaya sebagai Wali Kelas 4. Peran ini semakin melengkapi pengabdiannya. Jika sebagai guru beliau berhadapan dengan santri dalam proses pembelajaran, maka sebagai wali kelas beliau berhadapan dengan santri secara lebih utuh. Mengenal perkembangan mereka. Memperhatikan kebiasaan mereka. Mengamati perubahan sikap mereka. Mengawal kedisiplinan. Dan menjadi salah satu orang yang hadir ketika seorang santri membutuhkan pendampingan.
Di sinilah pendidikan menjadi sesuatu yang personal. Sebab tidak semua santri membutuhkan pendekatan yang sama. Ada yang membutuhkan ketegasan. Ada yang membutuhkan motivasi. Ada yang membutuhkan nasihat. Ada pula yang hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Seorang wali kelas yang baik harus mampu membaca semua itu.
Santri yang Kembali untuk Menjaga Masa Depan Santri
Ada satu hal yang membuat perjalanan Ustadz Arie Prima Rahmatullah terasa istimewa. Beliau adalah seorang santri yang kembali. Beliau pernah duduk di bangku pendidikan Pesantren PERSIS Bangil. Pernah merasakan kehidupan santri. Pernah berada di posisi orang yang diawasi. Pernah menerima nasihat. Pernah belajar dari para guru.
Kemudian beliau melanjutkan perjalanan ilmu hingga ke Kairo. Namun setelah perjalanan panjang itu, beliau kembali. Bukan sekadar untuk mengajar. Beliau kembali untuk menjaga masa depan pesantren. Di dalam kelas, beliau mengajarkan fiqih dan sharaf. Di asrama, beliau mengawal ibadah dan hafalan.
Sebagai wali kelas, beliau mendampingi pertumbuhan santri. Sebagai Sekretaris Majelis Guru, beliau ikut menjaga tradisi akademik. Dan bersama tim, beliau ikut memastikan bahwa karya ilmiah santri memiliki standar keilmuan yang layak. Jika direnungkan lebih dalam, semua peran itu sebenarnya memiliki satu benang merah:
Beliau sedang menjaga agar ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus menjadi cara berpikir. Cara berpikir harus melahirkan sikap. Sikap harus melahirkan amal. Dan amal harus melahirkan manfaat. Mungkin inilah plot twist terbesar dari perjalanan seorang santri. Ia pergi jauh untuk mencari ilmu, tetapi ternyata perjalanan terjauhnya justru membawanya kembali ke tempat ia pertama kali belajar.
Ia kembali bukan karena tidak memiliki tempat lain untuk mengabdi. Ia kembali karena ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar karier: ada generasi yang harus disiapkan. Dan mungkin, suatu hari nanti, salah satu santri yang hari ini beliau bimbing akan pergi jauh. Belajar di tempat lain. Menuntut ilmu. Mendalami berbagai disiplin. Lalu bertahun-tahun kemudian, ia mungkin akan kembali. Bukan sebagai santri. Tetapi sebagai guru.
Sebagaimana Ustadz Arie hari ini. Dan ketika saat itu tiba, barangkali barulah kita memahami bahwa pendidikan pesantren sesungguhnya bukan tentang berapa banyak santri yang berhasil diluluskan. Melainkan tentang berapa banyak santri yang kemudian menjadi manusia berilmu, beramal, dan kembali membawa manfaat bagi umat.
Sebab seorang guru mungkin hanya mengajar satu generasi. Tetapi jika ilmu yang ia tanamkan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya— maka sesungguhnya ia sedang mendidik masa depan yang bahkan belum pernah ia temui. Itulah pengabdian. Dan itulah mengapa perjalanan seorang guru di pesantren tidak pernah benar-benar selesai.
Selama masih ada santri yang belajar, selama masih ada ilmu yang diwariskan, dan selama masih ada umat yang membutuhkan manfaatnya—maka perjuangan seorang guru akan selalu menemukan jalan untuk terus hidup.
Tinggalkan Komentar