
USTADZ IHAB HUD
Menjaga Warisan Ilmu dan Menguatkan Tradisi Bahasa Arab
Setiap pesantren memiliki perjalanan panjang yang dibangun oleh banyak generasi. Ada yang datang sebagai pendiri, ada yang mengajar, ada yang belajar, dan ada pula yang tumbuh dari keluarga yang sejak lama menjadi bagian dari tradisi keilmuan pesantren.
Salah satu sosok yang kini turut mengambil bagian dalam perjalanan itu adalah Ustadz Ihab Hud.
Saat ini, beliau mengampu mata pelajaran Sharaf di Pesantren PERSIS Bangil. Sebuah bidang keilmuan yang menjadi salah satu perangkat penting bagi santri dalam memahami bahasa Arab dan mendekati sumber-sumber utama khazanah Islam.
Ilmu Sharaf bukan sekadar mempelajari perubahan bentuk kata. Di balik kaidah-kaidahnya, santri sedang dilatih untuk memahami bahwa perubahan bentuk sebuah kata dapat membawa perubahan makna. Ketelitian dalam memahami bahasa pada akhirnya menjadi bagian dari ketelitian dalam memahami ilmu.
Karena itu, pengajaran Sharaf memiliki posisi yang penting dalam tradisi pendidikan pesantren.
Tumbuh dari Keluarga dan Jejak Panjang Keilmuan
Ustadz Ihab Hud adalah putra dari Ustadz Hud Abdullah Musa dan Ibu Mu’minah, seorang perempuan berdarah Minang dan Pakistan.
Dari pihak ayah, Ustadz Hud Abdullah Musa memiliki garis keturunan yang kuat dalam sejarah keilmuan Islam di Indonesia. Beliau merupakan cucu dari A. Hassan, tokoh pembaharu pemikiran Islam di Indonesia, melalui putrinya Zulaiha. Zulaiha kemudian menikah dengan Abdullah Musa, seorang tokoh yang dikenal sebagai perintis Majalah Al-Muslimun di Bangil.
Dari garis inilah Ustadz Ihab mewarisi jejak panjang tradisi intelektual dan dakwah yang telah hidup dalam keluarga besarnya.
Sementara itu, ibunda beliau, Ibu Mu’minah, membawa latar budaya Minang yang kuat dalam tradisi ilmu dan agama, serta garis keturunan Pakistan yang memperkaya dimensi kultural dalam keluarga.
Perpaduan dua latar ini membentuk lingkungan tumbuh yang sarat dengan nilai ilmu, keberagaman, dan kesadaran akan pentingnya tradisi keislaman.
Alumni yang Kembali ke Rumah Ilmu
Ustadz Ihab Hud merupakan alumnus Pesantren PERSIS Putra Bangil. Artinya, beliau bukan hanya seorang pengajar di lingkungan pesantren ini, tetapi juga pernah menjadi bagian dari santri yang menempuh proses pendidikan di tempat yang sama.
Pengalaman sebagai santri memberikan beliau pemahaman yang utuh tentang dinamika pembelajaran, kehidupan asrama, serta proses pembentukan karakter di pesantren.
Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan ilmu ke Sudan untuk menimba pengetahuan lebih luas. Meskipun perjalanan tersebut tidak sampai selesai, pengalaman tersebut tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan cara pandang keilmuan beliau.
Sebab dalam tradisi ilmu, perjalanan tidak selalu diukur dari tuntasnya sebuah studi, tetapi dari sejauh mana pengalaman itu membentuk kedewasaan berpikir dan kesiapan untuk mengabdi.
Dan pada akhirnya, beliau kembali ke lingkungan pesantren—bukan sebagai santri, tetapi sebagai pengajar yang meneruskan estafet keilmuan.
Sharaf dan Jalan Menuju Khazanah Islam
Sebagai pengampu mata pelajaran Sharaf, Ustadz Ihab mengambil bagian dalam menyiapkan salah satu perangkat dasar keilmuan para santri.
Bahasa Arab memiliki posisi yang sangat penting dalam pendidikan Islam.
Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Hadis-hadis Nabi ﷺ diwariskan dalam bahasa Arab. Kitab-kitab ulama yang menjadi khazanah intelektual Islam sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab. Maka, menguasai bahasa Arab bukan sekadar kemampuan berkomunikasi.
Bagi seorang santri, bahasa Arab adalah jembatan menuju sumber ilmu.
Di sinilah ilmu Sharaf menjadi penting. Santri dilatih untuk memahami akar kata, perubahan bentuk, dan konsekuensi makna dari perubahan tersebut. Dari proses yang tampak teknis itu, sesungguhnya santri sedang dibiasakan untuk membaca teks dengan teliti dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan.
Sebab dalam tradisi ilmu Islam, satu perubahan kecil dalam struktur bahasa dapat membawa konsekuensi besar terhadap pemahaman.Dan dari sinilah kita memahami bahwa belajar bahasa Arab bukan sekadar belajar bahasa. Ia adalah belajar membaca ilmu dengan lebih bertanggung jawab.
Membangun Tradisi Musyawarah Guru
Di luar tugas mengajar, Ustadz Ihab Hud juga aktif dalam Musyawarah Ustadz-Ustadzah Madah, khususnya pada bidang Bahasa Arab dan rumpun keilmuannya. Keterlibatan beliau dalam forum ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja sama dan evaluasi di antara para pendidik.
Pendidikan yang baik tidak lahir dari kerja seorang guru saja. Ia membutuhkan komunikasi.Ia membutuhkan evaluasi. Ia membutuhkan kesamaan visi. Dan yang tidak kalah penting, ia membutuhkan kesediaan para guru untuk terus belajar satu sama lain.
Musyawarah Ustadz-Ustadzah Madah menjadi ruang untuk membicarakan berbagai persoalan pembelajaran, menyusun langkah bersama, dan menjaga agar proses pendidikan berjalan secara berkesinambungan.
Dalam konteks pembelajaran Bahasa Arab, forum ini memiliki arti yang semakin penting. Sebab kemampuan bahasa tidak dapat dibangun secara instan. Ia membutuhkan kesinambungan dari satu jenjang ke jenjang berikutnya.
Santri harus memperoleh fondasi yang kuat. Kemudian dikembangkan secara bertahap. Diperkuat melalui praktik. Dan diarahkan agar pada akhirnya mampu menjadi alat untuk memahami ilmu-ilmu keislaman. Di sinilah kerja kolektif para guru menjadi sangat menentukan.
Keluarga yang Terhubung dengan Pesantren
Dalam kehidupan keluarganya, Ustadz Ihab Hud telah dikaruniai dua orang anak. Istrinya merupakan alumnus Pesantren PERSIS Putri Bangil.Fakta ini menjadi gambaran bagaimana pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang membentuk jejaring kehidupan, pertemuan, dan kesinambungan nilai antar generasi.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya, nilai-nilai pendidikan itu terus bergerak. Orang tua belajar.Anak belajar.Dan keluarga menjadi bagian dari ekosistem ilmu yang hidup.
Perjalanan yang Tidak Selesai, Justru Menjadi Awal Pengabdian
Ada satu pelajaran menarik dari perjalanan Ustadz Ihab Hud. Beliau pernah berangkat menuntut ilmu ke Sudan. Namun perjalanan itu tidak sampai selesai.Bagi sebagian orang, hal itu mungkin tampak sebagai akhir dari sebuah rencana. Namun dalam dunia ilmu, tidak semua perjalanan diukur dari tuntasnya sebuah studi.Ada perjalanan yang justru menemukan maknanya ketika seseorang kembali.
Hari ini, Ustadz Ihab berdiri di hadapan santri Pesantren PERSIS Bangil sebagai seorang pengajar Sharaf.Mungkin beliau tidak menyelesaikan seluruh perjalanan akademiknya di Sudan.Tetapi beliau melanjutkan perjalanan yang lain: perjalanan untuk memastikan santri-santri setelahnya memiliki kesempatan untuk belajar lebih jauh daripada dirinya.
Seorang guru tidak harus menjadi orang yang telah menyelesaikan seluruh perjalanan. Kadang-kadang, ia justru menjadi orang yang menunjukkan kepada muridnya:”Inilah jalan yang pernah saya tempuh. Ambillah pelajaran darinya, lalu lanjutkan perjalananmu lebih jauh.”
Maka, mungkin inilah kisah Ustadz Ihab Hud.Seorang pengajar Sharaf yang sedang membuka pintu bahasa Arab bagi para santri. Seorang anggota Musyawarah Ustadz-Ustadzah Madah yang ikut menjaga kesinambungan pendidikan. Seorang pewaris jejak panjang keilmuan dari A. Hassan melalui Zulaiha dan Abdullah Musa. Seorang alumnus Pesantren PERSIS Putra Bangil yang kembali mengabdi di rumah ilmunya. Seorang suami dari alumnus Pesantren PERSIS Putri Bangil.Dan seorang ayah dari dua anak yang menjadi bagian dari generasi berikutnya.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pendidik bukan hanya seberapa jauh ia pernah belajar. Tetapi juga seberapa jauh ilmu yang pernah ia dapatkan mampu membawa orang lain melangkah lebih jauh. Dan mungkin, di situlah perjalanan ilmu yang sebenarnya tidak pernah selesai.
Tinggalkan Komentar