
Pada pagi hari Senin, tanggal 2 September 2024, tampak sebuah pemandangan beberapa santriwati memenuhi masjid Pesantren Persis Putri Bangil. Kebanyakan mereka tengah melaksanakan shalat dhuha dengan khusyu’ , dan yang sebagian lagi tengah membaca Al-Quran dengan suara lirih agar tidak mengganggu orang-orang yang shalat.
Memang, Pesantren menganjurkan kepada para santrinya untuk melakukan shalat dhuha, walau tidak ada peraturan yang tegas tentang hal ini. Meski begitu, banyak santri yang memiliki kesadaran diri untuk mengerjakan shalat dhuha sebelum bel sekolah berbunyi tanpa disuruh. Pemandangan inilah yang membuat Penulis tertarik untuk menanyakan alasan mengapa mereka sering mengerjakan shalat dhuha.
“Agar harinya dimulai dengan lebih baik” jawab Nuha, seorang santri kelas 6 yang saat ini menjabat sebagai Bendahara P4P.
“Pagi hari yang tenang…antara aku dan Allah”, ucap Maulidina. Santri yang juga merupakan peserta OSPI 2024 itu pun menambahkan “kalau sambat nggak cukup di shalat lima waktu.”
Ada juga ‘Aidah, santri asal Surabaya yang saat di tanya memberikan banyak alasan. “Curhat ke Allah, memperlancar masa depan, dilancarkan segala urusannya, banyak aslinya”, ungkapnya dengan jawaban yang serius.
Azkia ,yang merupakan ketua Seksi Dakwah, menjawab dengan menyebutkan keutamaan-keutamaan shalat Dhuha.
“Untuk menggugurkan kewajiban bersedekah kepada tulang-tulang sendi yang wajib di gugurkan setiap hari. Karena tulang-tulang sendi kita punya hak untuk disedekahi”, ucapnya sambil merujuk pada hadits:
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
“Pada pagi hari diwajibkan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Begitu juga amar makruf (memerintahkan kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim, no. 1704)
Dia juga menambahkan “orang yang melaksanakan shalat dhuha juga akan dicukupkan kebutuhannya”, sambil ia merujuk lagi pada sebuah hadits Qudsi:
يا ابنَ آدمَ اركعْ لي من أولِ النهارِ أربعَ ركَعاتٍ أكْفِكَ آخِرَه
Artinya: “Wahai anak Adam, rukuklah (sholatlah) karena Aku pada awal siang (sholat dhuha) empat rakaat, maka Aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore hari.” (HR Tirmidzi)
Berbeda dengan Keisa, saat ditanya alasan mengapa ia sering shalat dhuha ia langsung tersenyum dan spontan menjawab, “Gerakan hati!”, pendek saja jawabnya.
Tepat saat pukul 07.00, bel sekolah berbunyi. Dan satu persatu santriwati keluar dari area masjid dan segera menuju kelas masing-masing, mulai menjalani kegiatan belajar mereka.
@rohmatikafr/nzzu
Tinggalkan Komentar