
Hikmah dari Sebuah Percakapan Santri Putri
Senja perlahan turun di halaman Pesantren PERSIS Putri Bangil.
Angin sore berhembus pelan. Setelah rangkaian kegiatan yang cukup padat, beberapa santri duduk melingkar di salah satu sudut asrama. Tidak ada agenda resmi. Tidak ada rapat organisasi. Hanya obrolan santai yang biasanya menjadi ruang paling jujur untuk berbagi isi hati.
Lubna memandang langit yang mulai berubah warna.
“Aku pernah kepikiran, bagaimana ya rasanya sekolah di luar pesantren?”
Beberapa temannya saling berpandangan.
Husna tersenyum.
“Tumben. Kenapa?”
Lubna menghela napas.
“Nggak tahu. Kadang lihat teman-teman di luar. Mereka bisa pergi ke mana saja, ikut banyak kegiatan, bebas pegang HP, aktif di media sosial, bikin konten, ikut komunitas ini dan itu. Rasanya seru.”
Shiva yang duduk di sampingnya ikut menimpali.
“Aku juga pernah mikir begitu.”
Perkataan itu membuat suasana menjadi lebih terbuka.
Ternyata bukan hanya Lubna.
Ainun, Haniya, Elyn, Hanina, Shabira, Zeba, Qonita, dan Zhafira juga pernah merasakan hal yang sama.
Perasaan yang mungkin pernah mampir di hati banyak santri.
Perasaan ingin mencoba kehidupan yang berbeda.
Perasaan penasaran terhadap dunia di luar pagar pesantren.
“Aku kadang penasaran rasanya punya akun media sosial yang aktif,” kata Elyn.
“Pengen bikin konten juga?” canda Hanina.
“Ya nggak salah juga sih,” jawab Elyn sambil tertawa.
Mereka semua ikut tertawa.
Namun di balik candaan itu, ada pertanyaan yang cukup serius.
Apakah mereka sedang kehilangan sesuatu?
Ataukah mereka hanya sedang melihat sebagian kecil dari kehidupan orang lain?
Haniya yang selama ini dikenal cukup tenang akhirnya berbicara.
“Aku pernah bertanya hal yang sama ke kakak alumni.”
“Lalu?”
“Beliau bilang, manusia sering melihat kenikmatan yang tidak dimilikinya, tapi lupa melihat nikmat yang sedang ada di tangannya.”
Semua terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa dalam.
Husna lalu melanjutkan.
“Coba kita pikir. Teman-teman di luar mungkin punya kebebasan lebih banyak. Tapi apakah mereka punya lingkungan yang setiap hari mengingatkan shalat berjamaah?”
Tidak ada yang menjawab.
“Apakah mereka punya teman yang mengingatkan murojaah?”
Masih hening.
“Apakah mereka setiap hari mendapatkan suasana belajar agama seperti yang kita dapatkan sekarang?”
Pertanyaan demi pertanyaan mulai membuka cara pandang yang berbeda.
Qonita tersenyum.
“Kalau dipikir-pikir, kita sering mengeluh soal jadwal pesantren. Tapi saat pulang liburan, justru banyak yang kangen suasana pesantren.”
Semua langsung tertawa setuju.
Memang benar.
Saat berada di pesantren, kadang mereka merasa jadwal terlalu padat.
Tetapi ketika pulang ke rumah, banyak yang justru merasa ada yang hilang.
Tidak ada suara teman membangunkan tahajud.
Tidak ada murojaah bersama.
Tidak ada antrean kamar mandi yang sering menjadi bahan candaan.
Tidak ada kebersamaan yang setiap hari tercipta secara alami.
Shabira kemudian berkata,
“Aku pernah melihat seorang influencer yang terkenal. Followers-nya banyak sekali. Tapi di salah satu videonya dia cerita tentang kesepian.”
“Kok bisa?” tanya Zeba.
“Karena ternyata terkenal belum tentu tenang.”
Kalimat itu kembali membuat mereka berpikir.
Selama ini media sosial sering memperlihatkan potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang.
Foto yang bagus.
Prestasi yang menarik.
Tempat yang indah.
Kegiatan yang seru.
Tetapi tidak semua kesulitan dan kegelisahan ditampilkan.
Kadang yang terlihat di layar tidak sepenuhnya menggambarkan kenyataan.
Zhafira yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut berbicara.
“Mungkin masalahnya bukan karena pesantren terlalu membatasi.”
“Lalu?”
“Mungkin kita hanya sedang berada pada fase ingin mencoba hal-hal baru.”
Semua mengangguk.
Itu memang wajar.
Usia remaja adalah masa penuh rasa ingin tahu.
Ingin mencoba.
Ingin mengeksplorasi.
Ingin menemukan jati diri.
Namun justru pada fase itulah seseorang membutuhkan lingkungan yang baik untuk menjaga arah langkahnya.
Ainun kemudian berkata pelan,
“Bayangkan kalau nanti kita sudah lulus.”
“Kenapa?”
“Mungkin kita baru sadar bahwa masa-masa yang paling membentuk kita ternyata justru masa yang sekarang.”
Kalimat itu membuat suasana menjadi hening.
Masing-masing mulai memikirkan perjalanan mereka sendiri.
Tentang hafalan yang diperjuangkan.
Tentang pelajaran yang dipelajari.
Tentang nasihat para ustadzah.
Tentang sahabat-sahabat yang menemani hari-hari mereka.
Tentang air mata yang pernah jatuh karena rindu rumah.
Tentang tawa yang lahir dari hal-hal sederhana.
Mungkin benar.
Tidak semua hal menyenangkan harus dirasakan sekarang.
Tidak semua keinginan harus segera dipenuhi.
Ada masa untuk belajar.
Ada masa untuk mempersiapkan diri.
Ada masa untuk menempa karakter.
Dan pesantren adalah salah satu tempat terbaik untuk itu.
Malam semakin larut.
Obrolan mereka perlahan berubah menjadi tawa dan cerita-cerita ringan.
Namun ada satu pelajaran yang diam-diam mereka bawa pulang ke kamar masing-masing.
Bahwa rumput di seberang pagar sering terlihat lebih hijau.
Padahal jika kita mau merawat dan mensyukuri tempat kita berpijak hari ini, bisa jadi rumput yang kita miliki sebenarnya jauh lebih subur daripada yang kita bayangkan.
Pesantren mungkin tidak memberikan semua hal yang diinginkan remaja.
Tetapi pesantren berusaha memberikan sesuatu yang lebih berharga.
Yaitu ilmu.
Adab.
Persahabatan yang baik.
Kedisiplinan.
Dan bekal kehidupan yang akan terus menemani hingga masa depan.
Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa bebas seseorang menjalani hidupnya.
Melainkan seberapa benar arah hidup yang sedang ditempuhnya.
Catatan Penulis
Kisah ini merupakan karya fiksi yang ditulis untuk menghadirkan hikmah dan renungan. Kesamaan nama, tempat, suasana, maupun peristiwa dengan keadaan nyata semata-mata bertujuan menghidupkan rasa dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Mohon maaf apabila terdapat kekurangan, kekeliruan, atau bagian yang kurang berkenan di hati pembaca.
Semoga Allah memberikan keberkahan kepada seluruh santri, guru, orang tua, dan siapa saja yang sedang berjuang menuntut ilmu di jalan-Nya.
#IKAPB #AlumnusPersisBangil #PERSISBangilBersinergi #SantriBerakhlak #GenerasiQuran #psbpersisbangil #arekpersisbangil #persisbangil #santripersisbangil #arekpersis #pesantrenpersis #psbpersis #pesantrenpersisbangil #santripersis
Tinggalkan Komentar