
Sahabat Santri,
Ramadhan adalah bulan tarbiyah. Pintu pertamanya adalah shaum. Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(البقرة: 183)
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan menuju taqwa. Di pesantren, Sahabat Santri sudah terbiasa bangun sebelum fajar, antre kamar mandi, menjaga waktu makan, dan taat jadwal. Shaum memperhalus semua latihan itu—menjadikannya ibadah yang penuh kesadaran.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
(متفق عليه)
Iman dan ihtisab (mengharap pahala) adalah ruh puasa. Bagi Sahabat Santri, ini berarti belajar ikhlas: tetap jujur meski tak diawasi, tetap disiplin meski tak diperintah. Puasa mengajarkan bahwa integritas lahir dari dalam.
Di ruang kelas, di asrama, atau di rumah saat liburan, shaum adalah penguat karakter. Jika lapar saja bisa ditahan, maka amarah, malas, dan kelalaian pun bisa dikendalikan.
Ramadhan datang bukan hanya untuk mengurangi makan, tetapi untuk meninggikan derajat. Mari jadikan shaum sebagai madrasah keikhlasan—ciri santri sejati Pesantren PERSIS Bangil.
“Lanjut Seri 2”: Qiyam Ramadhan dan Kedekatan dengan Al-Qur’an.
Tinggalkan Komentar